Harga dari Sebuah Usaha
Malam
semakin larut, tampak seorang ibu masih duduk sendiri di ruang tamu. Ia tampak
gelisah, sesekali ia memandang jam yang tergantung di dinding.
“Ahhh… kenapa mereka belum juga pulang?”
Gumamnya dalam hati.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya ke
tiga anaknya seperti itu, hanya saja ia tidak bisa tidur jika anak-anaknya
belum pulang.
Ibu
Laras adalah seorang single parent, ia
memiliki tiga orang anak.. Ia biasa memfasilitasi anaknya barang-barang mewah.
Apa yang diinginkan anaknya selalu dituruti. Hal ini dikarenakan dahulu hidup
mereka jauh dari kata layak. Hidup mereka selalu kekurangan. Tapi berkat kerja
keras ibu Laras kini menjadi seorang pengusaha sukses. Ia pun berjanji untuk
selalu membahagiakan anaknya. Ternyata apa yang dilakukan ibu Laras salah,
ketiga anaknya kini tumbuh menjadi anak yang manja, malas, dan boros.
Pukul 01.00, anak sulungnya pulang diikuti oleh
adik perempuannya.
Dengan emeosi bu Laras bertanya dengan
ketiga anaknya,“darimana saja kalian?, ibu sangat cemas menunggu”.
“Ibu, besok aja marah-marahnya kami
sangat lelah,” jawab Devan anak sulungnya.
“Betul itu kak, saat ini kami sangat
ngantuk,” Reisa menimpali kata-kata kakanya.
“Kalian berdua sama saja, kalian sudah
dewasa cobalah bersikap lebih baik jangan bisanya hanya menghambur-hamburkan
uang saja , lalu kemana Rio adikmu?” Tanya ibu Laras.
“Ibu, Rio bukan anak kecil lagi dia bisa
urus dirinya sendiri, sudahlah bu besok aja marah-marahnya, kami cape,” jawab
Devan.
Ibu Laras hanya bisa diam, saat kedua
anaknya pergi meninggalkanya.
Devan
adalah anak bu Laras yang pertama, ia kuliah di Australia. Setelah lulus ia
kembali ke kota asalnya. Ibu laras berharap ia akan menjadi lebih mandiri atau
bahkan membantu bisnis ibunya. Tapi semua meleset ia masih tetap tergantung dengan uang ibunya.
Ia selalu meminta ibunya modal usaha tetapi usahanya tak pernah berjalan
lancar. Ia kini malah berpacaran dengan Cindy, yang kerjanya memeras uang
Devan. Reisa tak berbeda jauh dengan kakaknya, dia adalah satu-satunya anak
perempuan bu Laras. Setiap hari ia sibuk berbelanja, hari-harinya ia habiskan
di Mall membeli barang-barang bermerk. Padahal ia adalah lulusan sekolah
desainer. Tapi ia tak mau bekerja dengan alasan ia memiliki ibu yang kaya.
Anak
bungsu ibu Laras bernama Rio, setelah lulus dari SMA ia bukannya sibuk kuliah,
ia malah memilih vakum. Hampir setiap malam ia habiskan di dunia malam. Ia
biasa pulang pagi, dan tidur hingga sore hari. Ibu laras juga memiliki seorang
asisten yang selalu setia membantunya ia bernama pak Rudi.
Siang
ini bu Laras akan menghadiri acara pembukaan kantor barunya. Semua anaknnya ia
wajibkan hadir. Kini usahanya semakin maju. Ia memiliki kantor baru yang letaknya sangat strategis
dan gedungnyapun lebih besar. Semua orang sudah berkumpul. Tapi aneh mereka tak
melihat yang empunya acara yaitu bu Laras. Pak rudi lalu meneleponnya. Setelah
berdering cukup lama baru bu Laras mengangkat teleponnya.
“Haloo, ada apa pak Rudi apa terjadi
sesuatu?” jawab Bu Laras.
“Ibu dimana? Bukankah ibu harus
menghadiri pembukaan gedung baru kita, semua orang sudah menunggu.” Kata Pak
Rudi.
Ibu
Laras terkejut, kenapa ia bisa lupa hal yang sepenting itu, ia malah ketiduran
disalon langganannya. Ia buru-buru merapikan penampilannya lalu segera menuju
tempat parkiran. Tapi yang terjadi bu Laras lupa dimana ia mermarkirkan
mobilnya. Ia menjadi bingung dan merasa pusing, tiba-tiba sebuah mobil dari
arah berlawanan menyerempetnya. Ia pun jatuh pingsan.
Sementara
di tempat acara semua orang menunggu kedatangan ibu Laras, telepon Reisa
bordering. Reisa tidak mempedulikannya karena ia tak mengenal nomor itu. Tapi
teleponnya terus berdering.
“Kak, angkat teleponnya berisik tau!” Perintah
Rio adiknya.
“Ia-ia ini mau ku angkat, cerewet banget
sih” jawab Reisa sambil memegang HP ditangannya.
Reisa pun menjawab teloponnya “Ya
benar, ada apa ya? Iya… iya…”
Ia tampak terkejut, matanya tampak
berkaca-kaca, kedua saudaranya pun bingung.
“Ada apa Reisa?” Tanya kedua saudaranya
secara bersamaan.
“Ibu kecelakaan, kini ia ada di rumah
sakit” jawab Reisa lirih.
Pak Rudi menjemput ketiga anak bu Laras.
Mereka segera bergegas ke rumah sakit, pak Rudi memacu mobil dengan kencang.
Sampai di rumah sakit, bu Laras masih berada di ruang UGD. Mereka semua menunggu
dengan cemas. Akhirnya bu Laras selesai
diperiksa. Semua anak termasuk pak Rudi bergegas menghampirinya. Ada perban
melingkar di kepala bu Laras.
“Bagaimana keadaan ibu?” Semua bertanya dengan
nada khawatir.
“Seperti yang kalian lihat, ibu tidak
apa-apa,” jawab bu Laras sambil
tersenyum.
“Syukurlah, kami semua sangat lega,”
jawab pak Rudi.
“Ia bu, kami semua sangat khawatir,”
jawab si bungsu.
“Ia nak, ibu hanya luka ringan saja, ibu
sudah boleh pulang,” Kata Bu Laras sambil beranjak dari ranjang RS.
“Apa tidak sebaiknya kalau ibu di rawat duluselama
beberapa hari,” saran pak Rudi.
“ia.. bu” kata Devan sepakat.
“Tidak, ibu hanya perlu istirahat di
rumah, dan kontrol secara rutin ke RS” Jawab ibu.
Mereka semua segera meninggalkan rumah
sakit.
Hari-hari
trus berlalu, tak ada perubahan yang terjadi dengan anak-anak bu Laras, semua
masi tetap sama. Sikap mereka kian hari kian menjadi. Bu laras duduk di
ruangannya, ia ditemani pak Rudi asistennya.
“Apa ibu mau minum the atau kopi
hangat?” Tawar pak Rudi.
“Tidak pak, terima kasih. Saya hanya
bingung memikirkan ketiga anak saya, bagaimana kalau saya sudah tidak ada”.
Jawab bu Laras sambil menghela napas.
“Jangan bicara seperti itu, mereka semua
sudah dewasa bu.” Kata pak Rudi.
Ibu Laras kembali bicara, “bukan begitu
pak, saya hanya khawatir saja”.
Tiba-tiba ibu Laras memegang keningnya,
tampaknya ia pusing, pandanggannya berkunang-kunang.
“Ada apa bu?” Tanya pak Rudi.
“Saya hanya sedikit pusing”. Jawab bu Laras sambil trus keningnya.
Pusing yang dialami bu Laras tak kunjung
reda dan malah bertambah sakit, pak Rudi kembali membawa bu Laras ke RS. Sampai
di rumas sakit bu Laras menumui dokter. Ia harus melalui berbagai pemeriksaan.
Di ruangan dokter, bu Laras tampak
bingung ia pun bertanya kepada dokter yang memeriksanya,”Sebenarnya saya
sakit apa dok? Apa parah?”
Sambil menghela napas dokter menjawab
“ibu menderita Alzheimer”.
“Maksud dokter saya akan mengalami
pikun?” Tanya bu Laras.
Dokter kembali mempertegas pernyataanya,
“Benar sekali bu”.
Ibu
Laras sangat terkejut sekaligus sedih, ia pikir Alzheimer hanya diderita oleh
lansia saja. Ia sungguh tidak menyangka di usia yang tergolong belum cukup tua
ia harus menderita penyakit yang seperti itu. Dokter menyarankan agar ibu Laras
memberitahu keluarganya, tetapi bu Laras menolak ia tak ingin membuat
anak-anaknya sedih. Bu Laras meminta pak Rudi untuk merahasiakannya.
Dalam
perjalanan pulang ke rumah bu Laras berpikir dan mencari cara agar anak-anaknya
menjadi orang yang mandiri. Ia menyusun rencana dengan pak Rudi untuk memberi
pelajaran, ia ingin anaknya bisa berubah. Bu Laras berpikir sejenak, ia akan
membuat skenario kalau dirinya mengalami kebangkrutan. Bersama pak Rudi ia
mulai menjalankan rencananya. Awalnya semua anak-anaknya tidak percaya.Tetapi,
Bu Laras berusaha meyakinkan ketiga anaknya. Ia mulai menarik semua
fasilitas-fasilitas yang ada, diantaranya kartu kredit dan mobil mereka. Bahkan
Bu Laras mengajak ketiga anaknya pindah rumah. Rumah yang baru ini sangat
berbeda jauh dengan rumah mereka, lebih kecil dan berada di dalam sebuah gang.
Pacar devan yang mengetahui hal itu perlahan meninggalkannya.
Ketiga
anaknya mulai percaya bahwa saat ini ibunya benar-benar jatuh miskin. Mau tidak
mau mereka harus menerima keadaan keluarganya sekarang. Ibunya juga menyuruh
mereka untuk bekerja, dengan alasan untuk membayar sewa rumah dan kebutuhan
sehari-hari. Mereka semua mengeluh dan merasa marah dengan sikap ibunya. Mereka
semua akhirnya mulai mencari pekerjaan,karena bulan depan mereka harus
memberikan uang sejumlah Rp.500.000,- kepada ibunya jika tidak mereka tidak
akan makan dan tidur di dalam rumah. Syarat yang cukup sulit memang, karena
mereka sama sekali tidak pernah bekerja.
“kak, bagaimana nasib kita, kenapa hal
seprti ini terjadi pada kita semua?” Tanya Rio.
“Sudahlah kita ikuti saja kemauan ibu, kita
harus bisa bekerja dan buktikan kalau kita bisa”. Devan mencoba memberi semangat
kepada adik-adiknya. Hal sangat jarang sekali terjadi, mereka tampak akur dalam
ruang yang kecil.
Hari-hari
pun berlalu, walau sulit mereka akhirnya mendapat pekerjaan. Devan si sulung
bekerja sebagai guru privat bahasa inggris. Ia mengajar anak yang berumur 5
tahun bernama Rangga.
Reisa sendiri bekerja di sebuah butik
kecil, butik itu adalah usaha keluarga milik pak Darmawan. Butik itu bernama
“Nara Mode”. Butik itu sekarang sepi, pelanggannya pun berkurang satu persatu.
Sehingga Reisa dituntut untuk bisa
mencipatakan sesuatu yang baru.
Putra sulung bu Laras memutuskan untuk
melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi dan bekerja paruh waktu di sebuah kafe.
Hari-hari
mereka lalui sangat berat, mengingat gaji yang mereka terima tidaklah banyak,
tapi mereka mulai menyadari sulitnya mencari uang. Mereka mulai menyesali
perbuatan mereka di masa lalu bukanlah hal yang baik.tanpa mereka sadari ibunya
selalu memantau anak-anaknya. Bu Laras cukup puas dengan perubahan yang terjadi
denagn anaknya. Mereka menjadi lebih rajin, dan yang penting mereka menjadi
sebuah keluarga yang bahagia.
“Mungkin sudah saatnya saya jujur kepada
anak mereka,” pikir bu Laras.
“Bagaimana menurutmu pak Rudi ?” Tanya
bu Laras meminta pendapat asistennya.
“Itu semua saya serahkan kembali kepada
bu Laras bagaimana baiknya,” jawab pak Rudi.
Keesokan paginya bu Laras mengumpulkan
anak-anaknya, dalam satu meja mereka berkumpul.
Bu Laras menceritakan semua rencana yang
ia buat, tanpa terlewat satu pun. Termasuk tentang penyakitnya. Semua anaknya
terkejut, mereka bingung harus bagaimana. Mereka hanya bisa tertunduk, mereka
lalu memeluk ibu mereka. Suasana sekitika menjadi hening dan haru. Hanya isak
tangis yang terdengar. Mereka tidak lagi mementingkan harta ibu mereka, tapi
mereka memikirkan kesehatan ibunya.
Beberapa
bulan kemudian, semua sudah kembali normal. Mereka kembali tinggal di rumah
mereka dulu. Tetapi mereka tetap bekerja dan tidak mengharap uang dari ibunya.
Bu Laras sendiri kini lebih memilih tinggal di villa, kesehatannya makin hari
kian buruk, ia mulai lupa dengan semua yang terjadi dalam hidupnya. Ingatannya
semakin memburuk. Sesekali anak-anak mereka menjenguknya dan selalu memberi
semangat.

suka banget sama cerpennya :)
BalasHapusMomm.. ohh momm.. hiks.. jd kangenn emakk
BalasHapusMomm.. ohh momm.. hiks.. jd kangenn emakk
BalasHapussetelah membacanya, saya jadi tambah perhatian dan lebih menjaga serta memberikan perhatian lebih kepada kedua orangtua.
BalasHapushua mbaaa na syedih 😂
BalasHapusCeritanya bikin kebawa suasana. Jadi merasa bersalah sama bunda
BalasHapusKgen emak jdi y kan...
BalasHapusGood bgt mba ai...
Sedih. Mau nangis
BalasHapusBagus mba. Jadi membayangkan kalo itu ibuku
BalasHapusBagus banget... ditunggu post selanjutnya ya mba
BalasHapus