Selasa, 10 Mei 2016

Cerpenku

Harga dari Sebuah Usaha

            Malam semakin larut, tampak seorang ibu masih duduk sendiri di ruang tamu. Ia tampak gelisah, sesekali ia memandang jam yang tergantung di dinding.
“Ahhh… kenapa mereka belum juga pulang?” Gumamnya dalam hati.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya ke tiga anaknya seperti itu, hanya saja ia tidak bisa tidur jika anak-anaknya belum pulang.
            Ibu Laras adalah seorang single parent, ia memiliki tiga orang anak.. Ia biasa memfasilitasi anaknya barang-barang mewah. Apa yang diinginkan anaknya selalu dituruti. Hal ini dikarenakan dahulu hidup mereka jauh dari kata layak. Hidup mereka selalu kekurangan. Tapi berkat kerja keras ibu Laras kini menjadi seorang pengusaha sukses. Ia pun berjanji untuk selalu membahagiakan anaknya. Ternyata apa yang dilakukan ibu Laras salah, ketiga anaknya kini tumbuh menjadi anak yang manja, malas, dan boros.
            Pukul  01.00, anak sulungnya pulang diikuti oleh adik perempuannya.
Dengan emeosi bu Laras bertanya dengan ketiga anaknya,“darimana saja kalian?, ibu sangat cemas menunggu”.
“Ibu, besok aja marah-marahnya kami sangat lelah,” jawab Devan anak sulungnya.
“Betul itu kak, saat ini kami sangat ngantuk,” Reisa menimpali kata-kata kakanya.
“Kalian berdua sama saja, kalian sudah dewasa cobalah bersikap lebih baik jangan bisanya hanya menghambur-hamburkan uang saja , lalu kemana Rio adikmu?” Tanya ibu Laras.
“Ibu, Rio bukan anak kecil lagi dia bisa urus dirinya sendiri, sudahlah bu besok aja marah-marahnya, kami cape,” jawab Devan.
Ibu Laras hanya bisa diam, saat kedua anaknya pergi meninggalkanya.
            Devan adalah anak bu Laras yang pertama, ia kuliah di Australia. Setelah lulus ia kembali ke kota asalnya. Ibu laras berharap ia akan menjadi lebih mandiri atau bahkan membantu bisnis ibunya. Tapi semua meleset  ia masih tetap tergantung dengan uang ibunya. Ia selalu meminta ibunya modal usaha tetapi usahanya tak pernah berjalan lancar. Ia kini malah berpacaran dengan Cindy, yang kerjanya memeras uang Devan. Reisa tak berbeda jauh dengan kakaknya, dia adalah satu-satunya anak perempuan bu Laras. Setiap hari ia sibuk berbelanja, hari-harinya ia habiskan di Mall membeli barang-barang bermerk. Padahal ia adalah lulusan sekolah desainer. Tapi ia tak mau bekerja dengan alasan ia memiliki ibu yang kaya.
            Anak bungsu ibu Laras bernama Rio, setelah lulus dari SMA ia bukannya sibuk kuliah, ia malah memilih vakum. Hampir setiap malam ia habiskan di dunia malam. Ia biasa pulang pagi, dan tidur hingga sore hari. Ibu laras juga memiliki seorang asisten yang selalu setia membantunya ia bernama pak Rudi.
            Siang ini bu Laras akan menghadiri acara pembukaan kantor barunya. Semua anaknnya ia wajibkan hadir. Kini usahanya semakin maju. Ia memiliki  kantor baru yang letaknya sangat strategis dan gedungnyapun lebih besar. Semua orang sudah berkumpul. Tapi aneh mereka tak melihat yang empunya acara yaitu bu Laras. Pak rudi lalu meneleponnya. Setelah berdering cukup lama baru bu Laras mengangkat teleponnya.
“Haloo, ada apa pak Rudi apa terjadi sesuatu?” jawab Bu Laras.
“Ibu dimana? Bukankah ibu harus menghadiri pembukaan gedung baru kita, semua orang sudah menunggu.” Kata Pak Rudi.
            Ibu Laras terkejut, kenapa ia bisa lupa hal yang sepenting itu, ia malah ketiduran disalon langganannya. Ia buru-buru merapikan penampilannya lalu segera menuju tempat parkiran. Tapi yang terjadi bu Laras lupa dimana ia mermarkirkan mobilnya. Ia menjadi bingung dan merasa pusing, tiba-tiba sebuah mobil dari arah berlawanan menyerempetnya. Ia pun jatuh pingsan.
            Sementara di tempat acara semua orang menunggu kedatangan ibu Laras, telepon Reisa bordering. Reisa tidak mempedulikannya karena ia tak mengenal nomor itu. Tapi teleponnya terus berdering.
“Kak, angkat teleponnya berisik tau!” Perintah Rio adiknya.
“Ia-ia ini mau ku angkat, cerewet banget sih” jawab Reisa sambil memegang HP ditangannya.
Reisa pun menjawab teloponnya “Ya benar,  ada apa ya? Iya… iya…”
Ia tampak terkejut, matanya tampak berkaca-kaca, kedua saudaranya pun bingung.
“Ada apa Reisa?” Tanya kedua saudaranya secara bersamaan.
“Ibu kecelakaan, kini ia ada di rumah sakit” jawab Reisa lirih.
Pak Rudi menjemput ketiga anak bu Laras. Mereka segera bergegas ke rumah sakit, pak Rudi memacu mobil dengan kencang. Sampai di rumah sakit, bu Laras masih berada di ruang UGD. Mereka semua menunggu dengan cemas.  Akhirnya bu Laras selesai diperiksa. Semua anak termasuk pak Rudi bergegas menghampirinya. Ada perban melingkar di kepala bu Laras.
“Bagaimana keadaan ibu?” Semua bertanya dengan nada khawatir.
“Seperti yang kalian lihat, ibu tidak apa-apa,” jawab  bu Laras sambil tersenyum.
“Syukurlah, kami semua sangat lega,” jawab pak Rudi.
“Ia bu, kami semua sangat khawatir,” jawab si bungsu.
“Ia nak, ibu hanya luka ringan saja, ibu sudah boleh pulang,” Kata Bu Laras sambil beranjak dari ranjang RS.
“Apa tidak sebaiknya kalau ibu di rawat duluselama beberapa hari,” saran pak Rudi.
“ia.. bu” kata Devan sepakat.
“Tidak, ibu hanya perlu istirahat di rumah, dan kontrol secara rutin ke RS” Jawab ibu.
Mereka semua segera meninggalkan rumah sakit.
            Hari-hari trus berlalu, tak ada perubahan yang terjadi dengan anak-anak bu Laras, semua masi tetap sama. Sikap mereka kian hari kian menjadi. Bu laras duduk di ruangannya, ia ditemani pak Rudi asistennya.
“Apa ibu mau minum the atau kopi hangat?” Tawar pak Rudi.
“Tidak pak, terima kasih. Saya hanya bingung memikirkan ketiga anak saya, bagaimana kalau saya sudah tidak ada”. Jawab bu Laras sambil menghela napas.
“Jangan bicara seperti itu, mereka semua sudah dewasa bu.” Kata pak Rudi.
Ibu Laras kembali bicara, “bukan begitu pak, saya hanya khawatir saja”.
Tiba-tiba ibu Laras memegang keningnya, tampaknya ia pusing, pandanggannya berkunang-kunang.
“Ada apa bu?” Tanya pak Rudi.
“Saya hanya sedikit pusing”.  Jawab bu Laras sambil trus keningnya.
Pusing yang dialami bu Laras tak kunjung reda dan malah bertambah sakit, pak Rudi kembali membawa bu Laras ke RS. Sampai di rumas sakit bu Laras menumui dokter. Ia harus melalui berbagai pemeriksaan.
Di ruangan dokter, bu Laras tampak bingung ia pun  bertanya kepada  dokter yang memeriksanya,”Sebenarnya saya sakit apa dok? Apa parah?”
Sambil menghela napas dokter menjawab “ibu menderita Alzheimer”.
“Maksud dokter saya akan mengalami pikun?” Tanya bu Laras.
Dokter kembali mempertegas pernyataanya, “Benar sekali bu”.
            Ibu Laras sangat terkejut sekaligus sedih, ia pikir Alzheimer hanya diderita oleh lansia saja. Ia sungguh tidak menyangka di usia yang tergolong belum cukup tua ia harus menderita penyakit yang seperti itu. Dokter menyarankan agar ibu Laras memberitahu keluarganya, tetapi bu Laras menolak ia tak ingin membuat anak-anaknya sedih. Bu Laras meminta pak Rudi untuk merahasiakannya.
            Dalam perjalanan pulang ke rumah bu Laras berpikir dan mencari cara agar anak-anaknya menjadi orang yang mandiri. Ia menyusun rencana dengan pak Rudi untuk memberi pelajaran, ia ingin anaknya bisa berubah. Bu Laras berpikir sejenak, ia akan membuat skenario kalau dirinya mengalami kebangkrutan. Bersama pak Rudi ia mulai menjalankan rencananya. Awalnya semua anak-anaknya tidak percaya.Tetapi, Bu Laras berusaha meyakinkan ketiga anaknya. Ia mulai menarik semua fasilitas-fasilitas yang ada, diantaranya kartu kredit dan mobil mereka. Bahkan Bu Laras mengajak ketiga anaknya pindah rumah. Rumah yang baru ini sangat berbeda jauh dengan rumah mereka, lebih kecil dan berada di dalam sebuah gang. Pacar devan yang mengetahui hal itu perlahan meninggalkannya.
            Ketiga anaknya mulai percaya bahwa saat ini ibunya benar-benar jatuh miskin. Mau tidak mau mereka harus menerima keadaan keluarganya sekarang. Ibunya juga menyuruh mereka untuk bekerja, dengan alasan untuk membayar sewa rumah dan kebutuhan sehari-hari. Mereka semua mengeluh dan merasa marah dengan sikap ibunya. Mereka semua akhirnya mulai mencari pekerjaan,karena bulan depan mereka harus memberikan uang sejumlah Rp.500.000,- kepada ibunya jika tidak mereka tidak akan makan dan tidur di dalam rumah. Syarat yang cukup sulit memang, karena mereka sama sekali tidak pernah bekerja.
“kak, bagaimana nasib kita, kenapa hal seprti ini terjadi pada kita semua?” Tanya Rio.
“Sudahlah kita ikuti saja kemauan ibu, kita harus bisa bekerja dan buktikan kalau kita bisa”. Devan mencoba memberi semangat kepada adik-adiknya. Hal sangat jarang sekali terjadi, mereka tampak akur dalam ruang yang kecil.
            Hari-hari pun berlalu, walau sulit mereka akhirnya mendapat pekerjaan. Devan si sulung bekerja sebagai guru privat bahasa inggris. Ia mengajar anak yang berumur 5 tahun bernama Rangga.
Reisa sendiri bekerja di sebuah butik kecil, butik itu adalah usaha keluarga milik pak Darmawan. Butik itu bernama “Nara Mode”. Butik itu sekarang sepi, pelanggannya pun berkurang satu persatu. Sehingga  Reisa dituntut untuk bisa mencipatakan sesuatu yang baru.
Putra sulung bu Laras memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi dan bekerja paruh waktu di sebuah kafe.
            Hari-hari mereka lalui sangat berat, mengingat gaji yang mereka terima tidaklah banyak, tapi mereka mulai menyadari sulitnya mencari uang. Mereka mulai menyesali perbuatan mereka di masa lalu bukanlah hal yang baik.tanpa mereka sadari ibunya selalu memantau anak-anaknya. Bu Laras cukup puas dengan perubahan yang terjadi denagn anaknya. Mereka menjadi lebih rajin, dan yang penting mereka menjadi sebuah keluarga yang bahagia.
“Mungkin sudah saatnya saya jujur kepada anak mereka,” pikir bu Laras.
“Bagaimana menurutmu pak Rudi ?” Tanya bu Laras meminta pendapat asistennya.
“Itu semua saya serahkan kembali kepada bu Laras bagaimana baiknya,” jawab pak Rudi.
Keesokan paginya bu Laras mengumpulkan anak-anaknya, dalam satu meja mereka berkumpul.
Bu Laras menceritakan semua rencana yang ia buat, tanpa terlewat satu pun. Termasuk tentang penyakitnya. Semua anaknya terkejut, mereka bingung harus bagaimana. Mereka hanya bisa tertunduk, mereka lalu memeluk ibu mereka. Suasana sekitika menjadi hening dan haru. Hanya isak tangis yang terdengar. Mereka tidak lagi mementingkan harta ibu mereka, tapi mereka memikirkan kesehatan ibunya.
            Beberapa bulan kemudian, semua sudah kembali normal. Mereka kembali tinggal di rumah mereka dulu. Tetapi mereka tetap bekerja dan tidak mengharap uang dari ibunya. Bu Laras sendiri kini lebih memilih tinggal di villa, kesehatannya makin hari kian buruk, ia mulai lupa dengan semua yang terjadi dalam hidupnya. Ingatannya semakin memburuk. Sesekali anak-anak mereka menjenguknya dan selalu memberi semangat.

 


10 komentar:

  1. suka banget sama cerpennya :)

    BalasHapus
  2. Momm.. ohh momm.. hiks.. jd kangenn emakk

    BalasHapus
  3. Momm.. ohh momm.. hiks.. jd kangenn emakk

    BalasHapus
  4. setelah membacanya, saya jadi tambah perhatian dan lebih menjaga serta memberikan perhatian lebih kepada kedua orangtua.

    BalasHapus
  5. Ceritanya bikin kebawa suasana. Jadi merasa bersalah sama bunda

    BalasHapus
  6. Kgen emak jdi y kan...
    Good bgt mba ai...

    BalasHapus
  7. Bagus mba. Jadi membayangkan kalo itu ibuku

    BalasHapus
  8. Bagus banget... ditunggu post selanjutnya ya mba

    BalasHapus